home

HOME

pages

HALAMAN

Karantina Lampung Lepas 14 Ribu Ton PKE Diekspor ke Selandia Baru

04-07-2026 | Mancanegara | 43x dibaca
Karantina Lampung Lepas 14 Ribu Ton PKE Diekspor ke Selandia Baru
"foto: istimewa"

LAMPUNG – Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Karantina Lampung (Karantina Lampung) kembali mencatatkan penambahan eksportir baru komoditas unggulannya. Sebanyak 14 ribu ton Palm Kernel Expeller (PKE) diberangkatkan menuju Selandia Baru setelah memenuhi berbagai persyaratan ekspor, termasuk standar yang ditetapkan negara tujuan. Jumat (3/7/2026). 

Dengan nilai ekonomi mencapai Rp20 miliar, menjadi salah satu langkah dalam memperluas pasar ekspor sekaligus memperkuat posisi pelaku usaha Lampung di perdagangan internasional.

Kepala Balai Karantina Lampung, Donni Muksydayan, mengatakan hadirnya eksportir baru menjadi indikator semakin terbukanya peluang usaha komoditas perkebunan Lampung di pasar internasional. Menurutnya, keberhasilan eksportir baru tersebut juga menunjukkan sistem sertifikasi dan pengawasan karantina mampu mendukung pelaku usaha menembus pasar ekspor secara berkelanjutan.

"Ekspor ini menjadi bukti bahwa komoditas asal Lampung memiliki daya saing di pasar internasional. Karantina berkomitmen mengawal setiap proses ekspor agar memenuhi persyaratan negara tujuan sehingga kepercayaan pasar global terhadap produk Indonesia terus meningkat," ujar Donni.

Sebagai informasi, Selandia Baru merupakan salah satu pasar potensial bagi PKE. Karena kandungan serat yang dimiliki, PKE banyak dibutuhkan sebagai bahan baku pakan ternak, terutama untuk sapi perah dan sapi potong yang mampu mendukung produktivitas ternak.

PKE merupakan produk samping industri kelapa sawit yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ternak alternatif. Produk ini telah dipasarkan ke berbagai negara, di antaranya Selandia Baru, Belanda, Jerman, Inggris, Prancis, Jepang, Korea Selatan, China, Filipina, Taiwan, Arab Saudi, dan Singapura.

Kinerja ekspor PKE dari Lampung juga menunjukkan tren yang terus meningkat. Sepanjang 2024 tercatat 172 kali ekspor dengan total volume sekitar 569 ribu ton dan nilai mencapai sekitar Rp2,58 triliun. Pada 2025, frekuensi ekspor meningkat menjadi 184 kali dengan volume sekitar 1,34 juta ton serta nilai sekitar Rp3,12 triliun. Kenaikan tersebut mencerminkan meningkatnya permintaan global terhadap produk turunan kelapa sawit untuk kebutuhan industri pakan ternak.

Sementara selama Januari hingga Juni 2026 telah dilakukan 66 kali ekspor dengan total volume sekitar 513 ribu ton dan nilai mencapai sekitar Rp1,17 triliun. Capaian tersebut menunjukkan peluang peningkatan ekspor hingga akhir tahun masih terbuka lebar.

Donni menilai meningkatnya kebutuhan dunia terhadap bahan baku pakan alternatif yang lebih efisien menjadi peluang agar semakin banyak pelaku usaha Lampung untuk menjadi eksportir.

"Permintaan PKE di pasar internasional terus tumbuh seiring kebutuhan industri peternakan global. Ini menjadi peluang besar bagi Indonesia, khususnya Lampung, untuk memperluas pasar ekspor," katanya.

Dalam proses ekspor, Karantina melakukan pemeriksaan, pengawasan, serta sertifikasi kesehatan tumbuhan melalui penerbitan Phytosanitary Certificate sebagai jaminan bahwa komoditas yang diekspor telah memenuhi standar internasional dan persyaratan negara tujuan.

"Karantina hadir sebagai fasilitator perdagangan yang aman. Kami memastikan setiap komoditas ekspor memenuhi persyaratan karantina negara tujuan sehingga proses perdagangan berjalan lancar, risiko penyebaran organisme pengganggu tumbuhan dapat dicegah, dan akses pasar internasional tetap terjaga," ujar Donni.

Ia berharap lahirnya eksportir baru ini dapat menjadi momentum bagi pelaku usaha lainnya di Lampung untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperluas pasar, serta memperkuat kontribusi daerah terhadap devisa negara melalui komoditas perkebunan yang berdaya saing global.(*)

Pra

Pra

Jasa Pembuatan News CMS